Pertama melihat berita beliu wafat, jujur perasaan saya biasa saja. Mungkin karena saya nggak pernah tahu rasanya menjadi santri di ponpes, bisa jadi juga karena belum pernah bergabung dengan ormas NU baik IPNU maupun GP Anshor. Bisa jadi juga karena saya pribadi belum pernah melihat, mendengar tausiah beliau baik langsung maupun dari media massa baik cetak maupun elektronik. Meski begitu, saya beberapa kali share nasihat beliau dalam bentuk gambar di medsos.
Ulama Kharismatik meninggal, dan kamu nggak merasa kehilangan? menyedihkan, keterlaluan. Batin saya bicara.
Entah bagaimana muasalnya, saya membuka Intagram. Pertama yang nampak di IG saya, postingan Gus Yasin Wagub Jateng sekaligus putera beliau. Hati saya mulai basah. Saya tarik ke bawah, saya melihat postingan Gus Miftah, Pak Hanif dll. Mata saya mulai basah. Saya tergugu ketika melihat postingan Gus Mus. Dari sana, saya meliahat Mbah Moen bilang begini "Dungo kulo sakniki namung diparingi khusnul khotimah"
Saya bengong gak tahu harus bilang apa, lama. ketika melihat postingan Ustad Yusuf Mansyur ketika beliau ( Mbah Moen ) menyentuh Hajar Aswad, sebelum akhirnya beliau wafat di Makah
Sugeng Tindak Mbah Moen, kami kehilangan dan kami harus belajar mengikhlaskan engkau pergi selamanya.
NB..gambar dari internet

Tidak ada komentar:
Posting Komentar