Tampilkan postingan dengan label Obituari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obituari. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2020

Selamat Jalan Bapak

 Paska jatuh dua tahun lalu, bapak yang ingatannya sudah mengabur tidak bisa lagi jalan. Awalnya saya shock, capek, marah entah kepada siapa karena harus ekstra menjaga bapak. Tapi lambat laun, meski kadang bapak yang pikun, kerap membuat tensi naik darah, saya mulai menerima bahwa dalam hidup itu ada siklus. Dalam hidup ada saling berganti. Dulu bapak yang merawat kami, sekarang giliran kami, anak-anaknya yang menjaga beliau dengan semampu hati.


Dalam kurun waktu dua tahun, bapak juga kerap kena demam, badannya menggigil hebat. Tapi kami selalu berhasil mengatasi entah dengan minyak urut, minyak kayu putih, fresh care etc. Tapi tidak pada hari itu, badan bapak demam, menggigil tak kunjung sembuh. Kami bingung, mau ngasih obat, juga beliau tidak mau makan kecuali minum madu instan. Itupun dengan susah payah.


Sore hari panas bapak belum turun. Tapi, alhamdulillah menggigilnya sudah hilang. Tapi tengah malam, bapak menggigil lagi dan dalam cukup lama. Karena bapak juga meracau, ingin pulang, manggil-manggil orang-orang yang sudah meninggal dunia, kami memutuskan mengaji di sebelah bapa. Kami sempat shock lagi ketika tiba-tiba mata bapak ndak lagi bisa melihat, napasnya tersengal.Naik-turun, panjang-tipis.


Kami terpaksa memanggil kerabat, tetangga selain minta doa, kami ikut tergugu melihat kerabat-tetangga minta maaf sama bapak.

Saya juga sempat meminta hadiah fateha kepada jamaah salat subuh di musalah dekat rumah.

Jam 7 pagi minggu terakhir Oktober 2020 bapak, mangkat, mengakhiri jatah umurnya. Ohya bapak wafat dalam usia 80an lebih.



Alfatiha.

Senin, 20 Juli 2020

Selamat Jalan Eyang

19 Juli sekitar pukul 9 pagi lebih, saya membuka FB. Mata saya terbelalak melihat postingan Grup Negeri Poci. Di sana, Pak Kurniawan Junaedi memposting kalau Eyang Sapardi telah wafat setelah berjuang melawan sakit, di rumah sakit. Selamat jalan Prof, karyamu abadi. Di bawah ini, ada puisi beliau yang layak kita kenang, kita renungkan. 

Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.

Selasa, 08 Oktober 2019

Selamat Jalan Eyang Habibie. Selamat Jalan Ibu Hj Ida Laila

Apakabar pemirsah Pojok Baca tercinta? semoga selalu dalam keadaan baik dan bahagia ya. Aamiin

Gaes, sebenarnya ingin sekali memposting di label Obituari saat Eyang Habibie dan Hj Ida Laila wafat. Tapi baru sekarang sempat. Maaf ya..

Eyang Habibie meninggalkan duka bagi siapa saja di seluruh rakyat Indonesia kenapa? karena selain beliau mantan Presiden, beliau juga pernah  menjadi menristek bertahun tahun, menciptakan pesawat, cendekiawan muslim yang juga penulis buku juga. Di postingan ini, saya mengingatkan agar kita menyempatkan mengirim doa agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt.. Alfatiha


Ibu Hj Ida Laila pedangdut legendaris sejak tahun 1960an. Beliau pernah berduet dengan penyanyi S Achmadi, Mus Mulyadi dll. Hits makernya Sepiring Berdua, Suara Hati, Bunga Dahlia dan masih banyak lagi. Di akhir karirnya, Hj Ida Laila lebih sering bernyanyi kasidah. Kalaupun dangdut, liriknya ke relegius sebut saja lagu Munafik, Siksa Kubur dll

Eyang Habibie, Hj Ida Laila telah tiada, tapi karyanya tetap tersimpan di hati kita. Semoga

Gaes, segini dulu ya, semoga kapan - kapan bisa nulis lagi..see you

notes : foto dari internet



Rabu, 07 Agustus 2019

Sugeng tindak Mbah Moen


Pertama melihat berita beliu wafat, jujur perasaan saya biasa saja. Mungkin karena saya nggak pernah tahu rasanya menjadi santri di ponpes, bisa jadi juga karena belum pernah bergabung dengan ormas NU baik IPNU maupun GP Anshor. Bisa jadi juga karena saya pribadi belum pernah melihat, mendengar tausiah beliau baik langsung maupun dari media massa baik cetak maupun elektronik. Meski begitu, saya beberapa kali share nasihat beliau dalam bentuk gambar di medsos.

Ulama Kharismatik meninggal, dan kamu nggak merasa kehilangan? menyedihkan, keterlaluan. Batin saya bicara.

Entah bagaimana muasalnya, saya membuka Intagram. Pertama yang nampak di IG saya, postingan Gus Yasin Wagub  Jateng sekaligus putera beliau. Hati saya mulai basah. Saya tarik ke bawah, saya melihat postingan Gus Miftah, Pak Hanif dll. Mata saya mulai basah. Saya tergugu ketika melihat postingan Gus Mus. Dari sana, saya meliahat Mbah Moen bilang begini "Dungo kulo sakniki namung diparingi khusnul khotimah"

Saya bengong gak tahu harus bilang apa, lama. ketika melihat postingan Ustad Yusuf Mansyur ketika beliau ( Mbah Moen ) menyentuh Hajar Aswad, sebelum akhirnya beliau wafat di Makah 

Sugeng Tindak Mbah Moen, kami kehilangan dan kami harus belajar mengikhlaskan engkau pergi selamanya.

NB..gambar dari internet 

Kamis, 25 Juli 2019

Maafkan Saya Lik ( In Memoriam )



Jam 1 siang ketika hendak ke masjid. Ceklek tiba tiba sepada saya tidak bisa dikayuh, as nya kena. Saya pun memanggul sepeda, mencari bengkel terdekat, setelah duhuran di masjid trasa. Ketika, sampai di bengkel, adikku telpon, Lik Rijah telah tiada😢😢

Setelah sedikit drama, sepeda bisa dipakai, saya pun pulang.


Jam 4 sore saya ke rumah duka. Alhamdulillah, fine fine saja ikut mengangkat jenazah menuju pemandian, ikut salat, hingga mengangkat menuju pemakaman. Saya pun fine fine saja

Mataku mulai mengembun ketika jenazah sudah dimakamkan dan pecah ketetika salat magrib. Ingat kebaikan kebaikan adik bapak saya ini ketika saya kecil.

Maafkan saya Lik, jika selama ini gak pernah ngasih apa apa  kecuali sedikit uang kalau lebaran atau kalau sedang ingat😢😢

Maafkan saya Lik, hanya doa  yang bisa panjatkan serta ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhir.. afatiha..

NB, gambar sumber dari internet 

Sabtu, 20 Juli 2019

Selamat Jalan Mas Wendo

Apakabar teman - teman pembaca blog saya? semoga tetap dalam lindungan Allah Swt ya. Aamiin. 

Langsung saja ya, kemarin negeri ini kehilangan tokoh terbaiknya. Yap. Telah berpulang ke rumah Allah, penulis, sastrawan, budayawan, tokoh televisi Arswendo Atmowiloto. Beliau meninggal dalam usia 70 tahun setelah berjuang melawan kanker. 

Teman teman yang baik, ijinkan saya menulis sekelumit kenangan tentang beliau ya..


Saya kecil hapal banget nama beliau. ACI, Imung, Keluarga Cemara, Menghitung Hari. Juga tabloid tabloid yang beliau kelola. Ketika berusaha menapaki jalan yang sama dengan beliau, saya ketemu, tahu, mendengar orang orang besar yg terinspirasi oleh beliau. Sedikit yg saya tahu, Hilman, Golagong, Leila S Khudori, dan muasih buanyak lagi. 3 nama diatas, juga menginspirasi penulis demi penulis yang sekarang besar. Hilman - Lupus, Gong - Balada Si Roy, Leila dengan Dunia Tanpa Koma nya.


Selamat Jalan Arswendo Atmowiloto, Selamat pulang di tempat yang abadi.

Segini dulu ya, kapan kapan sambung lagi.. see you



Sabtu, 01 Juni 2019

Selamat Jalan Ibu Ani Yudhoyono

Apakabar pembaca tercinta? semoga selalu dalam lindungan Allah Swt. Aamiin

Kali ini ijinkan saya mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya ibu negara presiden ke 6 Ibu Ani yang kemarin berpulang kerahmatullah karena kanker yang beliau derita. Semoga khusnul khotimah dan Pak SBY dan keluarga diberi kesabaran, ketabahan dan kekuatan oleh Allah. Aamiin.

Gaes, sedikit cerita, tahun 2012 atau 2013 ( lupa tahun pastinya ) Pak SBY dan Ibu mengunjungi Kabupaten Tegal. Kebetulan kala itu, saya berjualan di lapak di jalan yang dilewati mobil R1. Saya ingat persis, kala itu mungkin sekitar pukul 12 siang, mobil hitam mengkilat dengan tulisan R1 lewat di sekitar saya berjualan koran. Mobil itu, mengalun pelan. Tiba - tiba, jendela dibuka, ibu negara melambaikan tangannya sambil tersenyum manis dan penuh wibawa. Jujur, ibu negara favorit saya adalah Bu Tien, tapi demi melihat senyum beliau, saya sangat bahagia saya sangat bersyukur bisa melihat senyum yang ternyata menjadi kenangan terakhir

Waktu berjalan, suatu hari ada pameran buku di Yogya Mall Slawi, disebuah tumpukan buku obral, ada buku bertajuk Ani Yudhoyono Sang Putri Prajurit, ketika itu, saya ndak membelinya karena memang sedang mencari refrensinya buku - buku fiksi entah anak atau dewasa. Sekarang saya nyesal mengapa kala itu nggak beli, itukan bisa jadi kenangan terakhir

Ah nasi telah jadi bubur biarlah senyum berwibawa itu yang akan selalu saya kenang bersama doa tulus untuk beliau. Alfatiha..

Pembaca tercinta, segini dulu ya, doakan ya kapan - kapan bisa nulis lagi di sini. Ditunggu komentarnya ya.. salam literasi


Berita duka

Serunya beli buku-buku seken

 1. Buku yang kita dapatkan original dengan harga terjangkau. 2. Pernah mendapatkan buku yang edisi PO, ada tanda tangan penulisnya. 3. Pern...