Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2023

Cara Mengirim Cerpen Ke Majalah Bobo

Tahukan majalah Bobo? majalah anak legendaris yang kini sudah berusia 50 tahun. Dari awal terbit hingga sekarang masih menerima cerita baik naskah cerpen maupun dongeng. Gimana sih cara mengirim naskah baik cerpen atau dongeng ke sana? kini intip yuk! semoga bermanfaat.


1. Panjang naskah kisaran 700 kata

2. Alur maju ( biasanya )

3. Rapih editannya. Jadi sebelum kirim teman-teman baca berkali-kali dulu. Kalau sudah mantap baru deh dikirim ke sana.

4. Bisa cerpen atau dongeng

5. emailnya bobo@gramedia-majalah.com

6. Lengkapi pengantar di badan email, serta biodata yang meliputi bionarasi, alamat, no telp, no rekening dan NPWP ( kalau ada )

7. Kirim sebanyak-banyaknya dan kabari jika karyamu nongol ya.



Selasa, 24 Januari 2023

Kebiasaan-Kebiasaan Penulis Beken

Kamu ingin jadi penulis? penulis yang bisa menghasilkan banyak karya dan bisa bertahan menulis dalam rentang masa yang lama? pasti mau dong? salah satu caranya bisa dengan mengintip kebiasaan penulis-penulis beken berikut. Yuk simak! syukur-syukur sih bisa kamu terapkan.

 

1. George Owwel. Doi saat masih menjadi gelandangan dan pengemis kelaparan beliau tetap maksaain tetap membaca dan menulis setiap hari. Keren kan?

 

2. Stephen King. Beliau menulis setiap hari minimal 10 halaman, termasuk pas hari libur. Kata doi, jika anda tidak punya waktu membaca, Anda tidak punya waktu atau alat untuk menulis.

 

3. Hemingway menulis 500 kata perhari, ia juga menulis ketika pagi mulai muncul.

 

4. Murakarmi saat menulis novel ia bangun subuh dan siangnya untuk berlari.

 

5. Sinta Yudisia Penulis novel Existere ini menulis sebelum subuh. Beliau juga punya kliping setebal 1 atau 2 meter. Setiap bepergian psikolog ini juga selalu membawa notes beserta pensil/spidol warna untuk mencatat atau menandai hal penting dari yang ia baca.

 

6. Aveus Har Jawara lomba novel Diva Press ini selain penulis juga nyambi jualan mie ayam. Jika saat melayani pembeli mie ayamnya ia dapat ide, ayah dari Gita dan Novel ini menulisnya di HP. Kalau ada waktu barulah hasil idenya ia pindah ke laptop. Superkan?
Dari Berbagai sumber.

Rabu, 20 Januari 2021

BTS Jalitheng

 BTS, fabel Jalitheng yang masuk 50 besar dari 389 cerita yang masuk di sayembara dongeng SIP Publishing.

Pas lihat poster lomba, sebenarnya ndak niat ikutan. Pertama, saya merasa bukan penulis lomba karena sering kalah lomba. Kedua, saya jarang bikin dongeng. Kalau baca majalah bobo, dongeng tak skip, cuma baca cerpen saja. Ketiga, jurinya mas Ali Muakhir, Mba Mulasih Tari pasti milihnya ketat.

Poster lomba itupun berlalu.

Someday, saya diinvite grup FB alumni kelasnya uni Dian Onasis. Di sana diposting info lomba dongeng SIP yg ternyata diperpanjang.

Entah mengapa, saya jadi tertarik ikut. Saat itu juga saya baca syarat-syaratnya. Pagi harinya, saya pesan e book syarat ikut lomba tersebut. Ebook how to menulis dongeng itu, lumayan buat gambaran.

Aha, saya jadi ingat. Suatu malam, lihat kucing baru lahiran di seberang jalan di dalam kardus. Saya bukan cat lover, tapi kalau pas makan terus ada kucing, pasti ngasih yg sekiranya kucing doyan. Jadi walaupun geli sama kucing yg baru lahir, saya tepikan kardus berkucing itu ke teras rumah ben ndak kehujanan.

Nah peristiwa itulah saya sulap jadi fabel dan saya kirim.

Ngirim ngirim saja. Walau ndak juara, seneng dapat 50 besar dan bakalan dibukuin, dapat medali. Yey akhirnya punya medali. Some day moga dapat piala. Aamiin.



Jumat, 25 Desember 2020

Ayah aku mohon maaf

 


Dan pohon kemuning
Akan seg'ra kutanam
Suatu saat kelak dapat jadi peneduh
Meski-pun hanya jasad
Bersemayam di sini
Biarkan aku takafur
Bila rindu
Kepadamu
Walau tak terucap
Aku sangat kehilangan
Sebagian semangatku ada dalam doamu
Wari-san yang kau tinggal
Petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan
Meskipun aku tak dapat menunggguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa
Mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas
Aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu
Ayah aku berjanji
Akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap
Sujud sembahyang
Engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku
Meskipun kau dari sana
Sesungguhnyalah aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang…

( lirik kerennya Ebiet G Adhe )


Rabu, 16 Desember 2020

Welcome Roy

 Saat masih sekolah dasar, saya baca potongan cerbung Balada Si Roy dari kertas bungkus nasi. Kemudian sempat pinjam majalah Hai dari tetangga yang waktu itu udah remaja dan kebetulan punya majalah Hai.

Tahun berselang, saya sering mendapati nama penulis Balada Si Roy, Mas Golagong menulis skenario sinetron atau novelnya di layarkacakan. Salah satunya, Pada Mu ku bersimpuh yang dibintangi kalau nggak salah oleh Iis Dahlia, Ineke Koesherawati dll.

Lulus SMA, mulai kenal majalah Annida dan kerap baca cerpen Mas Golagong di sana. Kemudian saya bergabung dengan FLP cabang Tegal.

Pas Munas FLP tahun 2009, saya sebangku dengan relawan Rumah Dunia yang juga aktivis FLP Serang ( Abdl Karim kalau nggak salah ). Nah dari dia, saya mendapat nomor kontak Mas Gong. Isenglah saya sms Mas Gong. Pas sidang komisi, saya mendapat balasan sms dari Roy''. Isinya, maaf saya tidak bisa dapat hadir di Munas FLP karena sedang pengapuran tulang. Membaca sms ini, rasanya senang, bahagia tapi campur sedih.

Tahun 2012, saya bela-belain ke Pekalongan begitu tahu Roy ngisi pelatihan travel writer di sana. Sst, karena kantong mepet, saya ngambil tiket acara yang ndak dapat buku travel writer sehingga lebih murah. Lumayan lho, bisa buat ongkos nak bus.

Tahun berselang lagi, seneng banget ketika mendengar BSR mau difilmkan. Kala itu, munculah nama nama hits seperti Fathir, Ramon, Nicholas Saputra, Reza Rahardian yang digadang-gadang menjadi Roy. Sayangnya, itu ndak terjadi.

Baru 2019 lah, Fajar Nugros yang serius banget memfilmkan BSR. Tahun 2020, Desember, terpililah Abidzar Al Gifari sebagai Roy dan Febby Rastanty sebagai Ani aka Dewi Venus.

Welcome Roy, Abidzar, Febby dan pemain lainnya.




Senin, 30 November 2020

Kisah Bersama Radar Tegal

 


Tahun 2007, saya mulai merintis karir di dunia kepenulisan. Media massa yang ada kolom cerpen dan puisinya kala itu, saya kirimi naskah termasuk  Radar Tegal. Awal-awal, saya mengirimkan naskah-naskah tersebut via pos. Puisi, cerpen yang saya ketik di rental komputer saya print, saya baca ulang. Kalau sudah benar-benar dirasa oke, barulah saya membeli amplop, pranko dan membawa naskah tersebut ke kantor pos untuk dikirim ke alamat media yang saya incar. Dan semuanya sukses. Sukses ditolak dan tanpa kabar.

                Suatu hari, setelah saya sudah punya email, saya mengirim cerpen bertajuk Bukan Mimpi Yang Terpenggal. Isi cerpen tersebut tentang seorang pemuda yang bermimpi menjadi penulis terkenal seperti Habiburahman Elsirazy yang kala itu mencuat dengan Ayat-ayat Cinta-nya, seperti Helvy Tiana Rosa yang beken dengan Ketika Mas Gagah Pergi, atau sehebat Jony Ariadinata yang kala itu menjadi redaktur majalah sastra Horizon. Cerpen-cerpen Jony juga kerap menghias media massa lain baik sebagai penulis cerpen maupun menggawangi tanya jawab tentang cerpen di sebuah majalah.

                Rupanya, saking semangatnya ngirim, di bawah cerpen saya  lupa memberi nama pengarang apalagi biodatanya. Jadi pas cerpen tersebut tayang di Radar, nama penulisnya adalah alamat email saya, sutono_adiwerna. Sejaka saat itu, karena cerpen pertama yang berhasil goal dimuat, saya memakai nama tersebut sebagai nama pena hingga sekarang. Sekedar info, sekarang saya telah menulis kurang lebih 80-an di media massa baik lokal maupun nasional. Telah menulis beberapa buku berupa kumpulan cerpen dan kumpulan cerita anak. Alhamdulillah.

                2009, saya yang masih merintis karir di dunia kepenulisan, melengkapi niat tersebut saya keluar dari pekerjaan sebagai pelayan toko besi menjadi loper koran. Termasuk Radar Tegal. Saya masih ingat awal menjadi loper, mencari pembeli, pelanggan koran itu susahnya minta ampun. Tapi saya tetap kekeuh berjualan koran. Koran Radar, paling laku jika hari sabtu. Mungkin karena iklan lowongan kerjanya sangat melimpah kala itu, mungkin juga karena kalau sabtu halaman lebih tebal, atau bisa jadi karena sebagian kantor pemerintah tutup, jadi para pembaca yang biasanya nebeng di kantor, berduyun-duyun ke lapak koran.

                Tidak hanya itu, berkah dari jualan koran, karir kepenulisan saya alhamdulillah semakin berkembang. Tercatat Radar beberapakali memuat cerpen, puisi, opini yang saya tulis. Tidak hanya, itu saat menagih honor ke kantor redaksi, ternyata sekertaris Radar Tegal kala itu teman saya saat SMP jadi bisa reuni kecil dengan Mba Risma kala itu.

                Kenangan lain, profil saya pernah dimuat di Radar Tegal beberapa kali. Yang pertama ditulis oleh Mas Fatkhudin yang kedua oleh Alm Ghoni. Alfatiha.

                Terakhir, ijinkan saya mengucapkan selamat ulang tahun ke 20 kepada Radar Tegal. Semoga koran kebanggaan wong Tegal ini bisa terus bertahan, berkembang beriring pesatnya digitalisasi. Aamiin.

               

                Sutono, adalah Ketua FLP Tegal, serta pegiat literasi.

Jumat, 20 November 2020

Selamat Jalan Bapak

 Paska jatuh dua tahun lalu, bapak yang ingatannya sudah mengabur tidak bisa lagi jalan. Awalnya saya shock, capek, marah entah kepada siapa karena harus ekstra menjaga bapak. Tapi lambat laun, meski kadang bapak yang pikun, kerap membuat tensi naik darah, saya mulai menerima bahwa dalam hidup itu ada siklus. Dalam hidup ada saling berganti. Dulu bapak yang merawat kami, sekarang giliran kami, anak-anaknya yang menjaga beliau dengan semampu hati.


Dalam kurun waktu dua tahun, bapak juga kerap kena demam, badannya menggigil hebat. Tapi kami selalu berhasil mengatasi entah dengan minyak urut, minyak kayu putih, fresh care etc. Tapi tidak pada hari itu, badan bapak demam, menggigil tak kunjung sembuh. Kami bingung, mau ngasih obat, juga beliau tidak mau makan kecuali minum madu instan. Itupun dengan susah payah.


Sore hari panas bapak belum turun. Tapi, alhamdulillah menggigilnya sudah hilang. Tapi tengah malam, bapak menggigil lagi dan dalam cukup lama. Karena bapak juga meracau, ingin pulang, manggil-manggil orang-orang yang sudah meninggal dunia, kami memutuskan mengaji di sebelah bapa. Kami sempat shock lagi ketika tiba-tiba mata bapak ndak lagi bisa melihat, napasnya tersengal.Naik-turun, panjang-tipis.


Kami terpaksa memanggil kerabat, tetangga selain minta doa, kami ikut tergugu melihat kerabat-tetangga minta maaf sama bapak.

Saya juga sempat meminta hadiah fateha kepada jamaah salat subuh di musalah dekat rumah.

Jam 7 pagi minggu terakhir Oktober 2020 bapak, mangkat, mengakhiri jatah umurnya. Ohya bapak wafat dalam usia 80an lebih.



Alfatiha.

Senin, 20 Juli 2020

Selamat Jalan Eyang

19 Juli sekitar pukul 9 pagi lebih, saya membuka FB. Mata saya terbelalak melihat postingan Grup Negeri Poci. Di sana, Pak Kurniawan Junaedi memposting kalau Eyang Sapardi telah wafat setelah berjuang melawan sakit, di rumah sakit. Selamat jalan Prof, karyamu abadi. Di bawah ini, ada puisi beliau yang layak kita kenang, kita renungkan. 

Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.

Sabtu, 15 Februari 2020

milad FLP ke 23 tahun


FLP 23 tahun
Menulis adalah berjuang ( HTR )
2006, saat pertama ingin jadi penulis dan gabung FLP Cab Tegal, saya terbilang modal nekat. Why? Pertama saya masih buta tentang dunia kepenulisan walaupun sudah gila bacak sejak kecil

Kedua, kala itu jangankan bisa komputer, ngetik di hp pun belum pernah 😢
Maka kalau ada event flp tegal yg harus ngumpulin karya, saya nulis di buku kemudian dibawa ke rental komputer. Selesai? No..biasanya pas saya ambil ketikan, banyak typo, penempatan spasi yang salah kadang juga nama tokoh ditulis huruf kapital semua. Misal, TONO, BILY dll. Walhasil saya bolak balik berkali kali baru tak kirim ke pos. Selesai? Dimuat? Big No kebanyakan tanpa kabar naskah yg saya kirim. Jumlahnya? Mungkin pululahan atau seratus? Mbuh😁

Karena ngetik di rental repot, saya mulai kursus komputer di beberapa tempat. Pagi kerja di toko besi, siang kursus, sorenya ngantar koran sore. Nah nulisnya malam hari padahal badan pegal pegal😁

Fase ini ngirim ngetik sendiri, sesekali ngirim via email. Sukses? Gagal maning son
Eh yang bersejarah 2006, 2007 tulisanku dimuat di Annida dan Tarbawi itu tulisan tangan lho ngirimnya

23 tahun FLP, senang bisa jadi bagian forum ini, karena saya belajar nulis, organisasi dan tentu saja jadi tahu, kenal banyak orang orang hebat di sini. Alhamdulillah

Kamis, 07 November 2019

Belajar dari Boy Candra

Apakabar teman - teman setia blog Pojok Baca? semoga selalu dalam lindungan Allah ya. Aamiin. Kali ini saya akan cerita tentang pengalaman ketemu penulis hits Boy Candra. Tahukan? intip yuk..

Tahu nama Boy Candra sudah lama. Tepatnya pas suatu hari ke Gramedia Tegal rak - rak best seller yang biasanya di dominasi Tere Liye, Andrea Hirata, Asma Nadia, Raditya Dika, A Fuadi tiba - tiba tempat itu direbut seorang penulis bernama Boy. Boy Candra

Meski begitu, saya belum tergerak untuk membaca karya - karya penulis kelahiran 11 november 1989 ini. Entah kenapa? saya juga nggak tahu. He..he..

Waktu berselang, saya mengikuti akun Boy di Instagram juga di Twitter. Hal ini yang kemudian membuat saya tahu kalau Boy hendak mengadakan acara meet and greet di Gramedia Tegal, gratis pula..

Beruntung, sabut sore sebelum hari H, saya mendapat salah satu karya Boy yakni Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai. Selain bahan untuk mempelajari isinya, bisa juga bahan buat foto bareng. Haha 

Minggu siang, saya sampai di Rita Mall. Di sana, panitia yang didukung penerbit Mediakata sedang melakukan persiapan seperti mendesain tempat, cek sound dan lainnya

Setengah dua siang, saya mulai registrasi sebagai peserta sekaligus buat nomor antri foto bareng penulis 16 buku yang sebagian bestseller tersebut.Saya down dari sekian puluh yang registrasi, peserta yang datang didominasi mahkluk berjilbab. Abg- Abg pula. Untungnya saya berusaha cuek sambil baca buku dan sesekali menengok laman media sosial

Tepat jam 2 siang acara dimulai dengan akustikan oleh solois Rizal Saputra. Ketika Boy muncul dihadapan pembacanya, sebagian besar histeris ( kecuali saya dong ). Tapi histeris elegan. What? iya mereka teriak - teriak haa haaa saja. Coba kalau fansnya Afgan atau Gino Abraham pasti pada meringsek ke depan untuk peluk, cubit atau tindakan berani lainnya






Finaly, Boy ke depan dan saya mendapat banyak pelajaran dari dia. Saya catat sebagian ya, semoga bermanfaat

1. Bagi saya pembaca saya lebih pintar. Jadi, kalau saya salah boleh diluruskan
2. Pembaca buku - buku saya adalah pembaca, teman bukan fans. Fans bagi saya konotasinya negatif
3.. Tulis yang kamu pahami dan ingin kamu dalami
4. Setiap manusia berproses. Dulu, saya menulis aku dengan Q. hehe
5. Boy Candra pernah ditolak 7 penerbit sebelum akhirnya menulis 16 buku yang sebagian besar penjualannya laris
6. Yang susah itu membangun psikologi pembaca

Pembaca pojok baca, segini dulu ya. Doakan agar bisa terus menulis di sini

by Sutono Adiwerna, Penulis lepas, tinggal di Tegal. Foto dari internet

Senin, 16 September 2019

10 Nasehat agar kita tidak terjerumus dalam lembah maksiat

Nasihat 1. Menyadari keburukan, kehinaan dan rendahnya perbuatan maksiat

Nasihat 2. Merasa malu pada Allah

Nasihat 3. Senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepada mu dan mengingat - ingat perbuatan baik-Nya kepadamu

Nasihat 4. Takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya

Nasihat 5. Mencintai Allah

Nasihat 6. Menjaga kemulian dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikan

Nasihat 7. Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditinggalkan

Nasihat 8. Menghapus buaian angan - angan semu

Nasihat 9. Menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian

Nasihat 10. Kokohnya pohon keimanan yang tertanam kuat di hati


Serunya beli buku-buku seken

 1. Buku yang kita dapatkan original dengan harga terjangkau. 2. Pernah mendapatkan buku yang edisi PO, ada tanda tangan penulisnya. 3. Pern...