Jumat, 06 November 2020

SEHAT ALA ROSULULLAH.

 Judul Buku : Aku Sehat Tubuhku Kuat, Prestasiku Hebat

Penulis : Ririn Astuti Ningrum

Penerbit : Gema Insani, Depok

Cetakan : Oktober 2020

ISBN : 678-602-250-838-0


Saat sarapan, Jeha makan sangat banyak, sambil berdiri dan sedikit minum. Akibatnya, di kelas Jeha kebelet buang air besar. Saat di toilet, Jeha susah buang air besar. Juga saat pipis Jeha tidak menyiram. Menjelang magrib, Jeha juga makan donat besar padahal sudah adzan.

Akibatnya, saat salat di masjid, Jeha buang angin tak sengaja.

Komik aku sehat, tubuhku kuat, prestasiku sehat berisi komik-komik edukatif perihal sehari-hari Jeha, Meca, Umma dan Abba.

Dalam komik komik Jeha oh Jeha, pembaca anak diingatkan agar makan secukupnya, menjaga kebersihan.

Selain Jeha oh Jeha, ada beberapa cerita yang tak kalah seru. Seperti, berani khitan, surga di rumah nenek dan jamur berlian.

Buku ini cocok dibaca siapa saja. Terutama anak-anak muslim.

Kelebihan buku ini, dilengkapi pojok ayat, info covid juga buklet teka-teki silang. Pokoknya keren deh. Selamat membaca ya.




Senin, 20 Juli 2020

Selamat Jalan Eyang

19 Juli sekitar pukul 9 pagi lebih, saya membuka FB. Mata saya terbelalak melihat postingan Grup Negeri Poci. Di sana, Pak Kurniawan Junaedi memposting kalau Eyang Sapardi telah wafat setelah berjuang melawan sakit, di rumah sakit. Selamat jalan Prof, karyamu abadi. Di bawah ini, ada puisi beliau yang layak kita kenang, kita renungkan. 

Pada Suatu Hari Nanti
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.

Selasa, 07 Juli 2020

Ketika Ibu Clara Tiada

Judul : Kasih Sejuta Bunda
Pengarang : Lisma Laurel, S Gegge Mappangewa
Penerbit : Indiva Media Kreasi, Solo
Cetakan 1 : April 2020
Tebal : 144 halaman
ISBN ; 978-623-253-000-3

                Clara sedih. Setelah ibunya meninggal seminggu yang lalu, ia berangkat ke sekolah sendirian. Tidak hanya itu, kepangan rambutnya juga diledek teman – temannyal. Kata mereka, kepangan rambut Clara seperti  Si Gila  dari gang sebelah
                Clara melamun kenapa sih ibunya harus meninggal? Sehingga ayahnya pagi tadi yang terpaksa mengepang rambut Clara asal asalan.
                Saat melamun karena sedih, tiba tiba datanglah seorang ibu yang kemudian berjanji akan  mengepang rambut Clara rutin setiap pagi
                Tidak hanya itu, ketika  Clara haus usai bermain main di taman dengan teman -temanya, ada ibu ibu yang berbaik hati memberinya  air minum sehingga dirinya tak perlu pulang ke rumah karena 
                Ketika  Clara jatuh dari sepeda, ada juga ibu yang menawarkan diri  mengobati luka Clara. Siapa sih ibu – ibu yang tak segan membantu  Clara?  Bagaimana kisah selanjutnya? Teman – teman bisa mengetahui kisah selangkapnya di buku ini ya !
                Buku ini berisi sebelas cerita . Selain cerita bertajuk Kisah Sejuta Bunda, yang menyentuh dan inspiratif,  teman – teman  juga membaca yang tak kalah seru seperti Kotak Ajaib Milik Juro, Sarabba Kakek Agung, Nasi Hukuman dan lainnya
                Kelebihan buku ini, selain ceritanya bagus bagus dan inspiratif , layout dan ilustrasinya sangat menawan sehingga pembaca anak tidak bosan.
                Catatan saya, meski cerita – cerita di dalam buku ini  diambil dari pemenang lomba kompetisi menulis nasional yang diadakan sebuah penerbit, saya menemukan satu ada dua cerita di buku ini yang menurut saya  ceritanya bertele – tele, dan ada cerita yang tokohnya terlalu banyak. Cerita yang bertele – tele membuat  pembaca anak bosan, cerita yang terlalu banyak tokoh membuat pembaca bingung
                Terlepas dari catatan tersebut, buku ini cocok dibaca anak – anak sudah mahir membaca bisa juga dibaca orang tua, pendidik sebagai bahan  cerita, mendongeng untuk menumbuhkan karakter yang baik bagi anak –anak kita. Selamat membaca



                Peresensi : Sutono, penulis lepas, pembaca buku di Kabupaten Tegal

Sabtu, 04 Juli 2020

Cara Menumbuhkan Cinta Al-Qur’an Kepada Anak – Anak

Judul Buku : Komik Aku Cinta Al-Qur’an
            Penulis : Lina Herlina
            Ilustrator : Fajar Istiqlal
            Penerbit : Gema Insana, Depok
            Tebal : 72 Halaman
            Cetakan : Januari 2020
            ISBN : 978-602-250-685-0
               
                Kenapa  kita (umat Islam )  harus mencintai Al- Qur’an? Karena ketika kita membaca kitab suci umat Islam ini, selain mendapat pahala, di dalamnya juga berisi petunjuk bagi kita. Untuk mencintainya, harus dimulai sejak usia dini ( anak –anak ) .  Banyak cara, media untuk mendidik, mengajarkan anak –anak agar bisa mencintai Al-Qur’an. Salah satunya dengan media bacaan dalam bentuk komik. Kenapa? Karena anak – anak sebagian besar lebih menyukai gambar daripada teks ( kecuali anak tersebut sudah di tahap mencintai buku )
                Buku bertajuk Komik Aku Cinta Al-Qur’an berisi 20  cerita berhikmah dalam bentuk komik. Salah satu diantaranya adalah komik berjudul Asih Mengajar Mengaji. Komik ini, mengisahkan Asih bocah berusia  10 tahun  yang dimintai ibunya mengajar mengaji karena ibunya yang guru mengaji itu, harus menjenguk orang yang sedang sakit. Masalahnya, selain masih kecil, Asih takut murid – murid ibunya di TPA, ( taman pendidikan Al-Qur’an ) tidak mau diatur olehnya. Apa yang terjadi kemudian?
                Selain komik Asih Mengajar Mengaji, ada banyak komik – komik yang tak kalah menarik misalnya, Aku Mau Jadi Keluarga Allah, Boleh Iri Tapi…!, Hati Jadi Tenang, Makan Gratis, Keberuntungan Ibu, Aissyah Murajaah dan komik – komik yang lain
                Kelebihan buku komik ini, ilustrasinya lucu, indah membuat pembaca anak betah berpindah dari halaman satu ke halaman akhir buku. Selain ceritanya yang juga sarat hikmah, buku ini juga dilengkapi kolom Kisah Sahabat, Hadits, boleh tahu. Dengan membaca buku ini, semoga menyemangati kita untuk belajar membaca, menghapal dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Amin


                Peresensi : Sutono, penulis lepas, pembaca buku

Minggu, 22 Maret 2020

Kelas menulis online, cernak

 Dalam rangka memperingati ultah FLP ke 23, FLP jateng mengadakan kelas menulis cerita anak secara online. Adapun pematerinya adalah Ikha Solikha, penulis kumpulan cernak Rahasia Rontok Rambut Nenek dan Sutono penulis cerita anak sekaligus pengurus FLP Jateng, Divisi Karya
Kelas menulis online ini terdiri dari 4 sesi. Minggu pertama pengenalan cernak secara umum. Sesi ke dua cernak secara khusus, yang pas untuk dikirim ke media massa. Untuk sesi ke 3 dan 4, adalah bedah karya cerita – cerita yang dikirim para peserta. Walaupun penyelenggaranya FLP jateng, para pesertanya ada yang dari FLP Jambi, FLP Cianjur bahkan beberapa ada yang dari non FLP.
Selama kelas berlangsung, tidak hanya penyampain materi tetapi juga diskusi  yang berlangsung meriah. Kelas semakin seru  karena ada pengumpulan tugas, membedahnya sebelum akhirnya bisa dikirim ke media massa
Sutono, selaku pemateri mengatakan kalau dirinya sangat senang dengan kelas  menulis yang berlangsung selama 4 minggu ini. Why?  karena dirinya juga bisa ikut belajar karya karya yang dikirim para peserta.  Sementara menurut Agus  Windari, salah satu peserta mengatakan sangat senang dan bersyukur karena mendapat bimbingan dari pemateri dalam membuat  cerita anak.
Meskipun kelas sudah selesai, harapan pengurus FLP jateng  divisi karya yang menyelenggarakan kelas ini   adalah para peserta mulai aktif menyerbu media dan mulis cerita anak di sana  maupun menulis buku solo ataupun  antologi bersama . Semangat

Rabu, 18 Maret 2020

Kelas Menulis Online, Cerita Anak

Dalam rangka memperingati ultah FLP ke 23, FLP jateng mengadakan kelas menulis cerita anak secara online.
                Adapun pematerinya adalah Ikha Solikha, penulis kumpulan cernak Rahasia Rontok Rambut Nenek dan Sutono penulis cerita anak sekaligus pengurus FLP Jateng, Divisi Karya
                Kelas menulis online ini terdiri dari 4 sesi. Minggu pertama pengenalan cernak secara umum. Sesi ke dua cernak secara khusus, yang pas untuk dikirim ke media massa. Untuk sesi ke 3 dan 4, adalah bedah karya cerita – cerita yang dikirim para peserta
                Walaupun penyelenggaranya FLP jateng, para pesertanya ada yang dari FLP Jambi, FLP Cianjur bahkan beberapa ada yang dari non FLP
                Selama kelas berlangsung, tidak hanya penyampain materi tetapi juga diskusi  yang berlangsung meriah. Kelas semakin seru  karena ada pengumpulan tugas, membedahnya sebelum akhirnya bisa dikirim ke media massa
                Sutono, selaku pemateri mengatakan kalau dirinya sangat senang dengan kelas  menulis yang berlangsung selama 4 minggu ini. Why?  karena dirinya juga bisa ikut belajar karya karya yang dikirim para peserta.  Sementara menurut Agus  Windari, salah satu peserta mengatakan sangat senang dan bersyukur karena mendapat bimbingan dari pemateri dalam membuat  cerita anak

                Meskipun kelas sudah selesai, harapan pengurus FLP jateng  divisi karya yang menyelenggarakan kelas ini   adalah para peserta mulai aktif menyerbu media dan mulis cerita anak di sana  maupun menulis buku solo ataupun  antologi bersama . Semangat

Nb. Tulisan ini dimuat juga di web FLP pusat 


Sabtu, 15 Februari 2020

milad FLP ke 23 tahun


FLP 23 tahun
Menulis adalah berjuang ( HTR )
2006, saat pertama ingin jadi penulis dan gabung FLP Cab Tegal, saya terbilang modal nekat. Why? Pertama saya masih buta tentang dunia kepenulisan walaupun sudah gila bacak sejak kecil

Kedua, kala itu jangankan bisa komputer, ngetik di hp pun belum pernah 😢
Maka kalau ada event flp tegal yg harus ngumpulin karya, saya nulis di buku kemudian dibawa ke rental komputer. Selesai? No..biasanya pas saya ambil ketikan, banyak typo, penempatan spasi yang salah kadang juga nama tokoh ditulis huruf kapital semua. Misal, TONO, BILY dll. Walhasil saya bolak balik berkali kali baru tak kirim ke pos. Selesai? Dimuat? Big No kebanyakan tanpa kabar naskah yg saya kirim. Jumlahnya? Mungkin pululahan atau seratus? Mbuh😁

Karena ngetik di rental repot, saya mulai kursus komputer di beberapa tempat. Pagi kerja di toko besi, siang kursus, sorenya ngantar koran sore. Nah nulisnya malam hari padahal badan pegal pegal😁

Fase ini ngirim ngetik sendiri, sesekali ngirim via email. Sukses? Gagal maning son
Eh yang bersejarah 2006, 2007 tulisanku dimuat di Annida dan Tarbawi itu tulisan tangan lho ngirimnya

23 tahun FLP, senang bisa jadi bagian forum ini, karena saya belajar nulis, organisasi dan tentu saja jadi tahu, kenal banyak orang orang hebat di sini. Alhamdulillah

Selasa, 11 Februari 2020

Keajaiban Rahasasia Bang Udin

Oktober 2019, buku saya terbit. Buku bertajuk Rahasia Bang Udin ini berisi 13 cerita anak yang sebagian besar pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Kumcernak ini terbit di sebuah penerbit indie di Banjar Baru. Meski indie, penampakan buku terbitan Zukzes Ekprez ini tak kalah keren dengan penampakan buku - buku yang edar di toko toko buku. Selain kaver, jilid rapih, layoutnya juga menawan. Hehe

Tapi karena sebagai penulis, saya tak hendak menceritakan kelebihan dan kekurangan buku saya ini, pamali katanya. Yang saya ingin catat di sini, buku ini membawa keajaiban bagi saya pribadi. Why? berkah buku ini, saya ngerasain jadi pemateri di pelatihan menulis online, buku saya diresensi di koran diresensi oleh raja resensi pula. Selain itu, buku ini disukai anak -anak yang kebetulan membaca buku ini. Alhamdulillah ya

Selasa, 14 Januari 2020

Berteman dengan teman spesial


Judul : Temanku Istimewa
Penulis : Arinda Shafa dan Wahyu Widyaningrum
Penerbit : Tiga Ananda, Solo
Tahun terbit : April 2019
Tebal : 60 hlm
ISBN : 978-623-206-127-9

            “ Yes ! sudah 30 level ! pekik Nela bersemangat. Ia bermain gim sambil merebahkan kepala di atas bantal. Jari – jari lincah menyentuh layar. Kedua mata fokus agar mendapatkan skor tertinggi ( hal 2 )
            Nela adalah gadis cilik yang duduk di kelas 3 SD. Kalau sedang main gim dari tablet, Nela seolah tak ingat waktu hingga matanya terlihat merah
            Karena pritahatin, mama Nela sering membuatkan putrinya jus wortel. Mama Nela juga selalu menasehati, mengingatkan kalau main gim cuku 15 menit saja agar mata tidak terkena radiasi tapi Nela tak pernah mengindahkan nasihat mamanya, terus saja main gim berjam – jam sampai suatu hari kedua matanya pedih dan berair
            Di hari minggu, Nela berkenalan dengan Siska, gadis kecil yang jago bermain biola. Sayangnya, teman baru Nela ini tidak bisa melihat lagi. Kenapa ya?
            Temanku Istimewa, berisi 8 cerita tentang teman – teman istimewa. Teman yang kurang beruntung karena berkebutuhan khusus, tetap teman – teman tersebut memiliki kelebihan luar biasa. Ada Siska yang jago bermain biola, ada Dio yang bisu, tuli tapi suka sekali membaca, ada Hanif yang meski kakinya lumpuh tapi bisa membantu orang tuanya menyapu, mengepel bahkan bisa membuat eco brick dan banyak kisa inspiratif lainnya
            Kelebihan buku ini selain inspiratif, ilustrasi dan layoutnya cukup menawan. Mungkin akan lebih menarik jika disertai seputar ABK ( anak berkebutuhan khusus ). Terakhir, buku ini bisa dibaca anak – anak juga guru, orang – tua yang bersentuhan dengan anak – anak istimewa. Selamat membaca


                Peresensi : Sutono. Penulis lepas, pegiat literasi di Kab Tegal

Sabtu, 16 November 2019

Gara - Gara Rujak

Hai pembaca pojok baca, jumpa lagi ya. Kali ini saya mau posting kisah lucu Jon Koplo yang saya tulis dan dimuat di rubrik Ah Tenane, Solopos. Selamat membaca ya



“ Bu ini rujak buah beli di Pak Drajat? “ tanya Jon Koplo. Jam dinding di  ruang tengah menunjukan pukul 11 siang
            Inggih. Tadi Pak Drajat kebetulan lewat depan rumah “ jawab Lady Cempluk, isteri Jon
            “ Tak makan  saiki ya Bu? “
            “ Sebentar lagi jumatan. Apa makan rujaknya nggak sepulang dari masjid saja? Bapak kan tahu sendiri, sambal rujaknya Pak Drajat ekstra pedas”
             “ Tapi kelihatannya enak dan seger banget. Tak makan sekarang ya Bu”
            Nggih Pun “ Akhirnya Lady menyerah
            Tak lama kemudian, rujak buah itu pun tandas dilahap Jon Koplo. Bahkan, Lady Cempluk yang beli pun tidak disisai
***
            Jon tiba di masjid At’Takwa bersamaan dengan khotbah jumat dimulai. Selesai sholat sunah, Jon mendengarkan tausiah dengan seksama. Disaat khusuk mendengarkan khotbah, tiba – tiba perut Jon melilit – lilit. Awalnya, Jon berusaha menahan sakit perutnya karena tidak ingin melewatkan khotbah jumat yang disampaikan Ustad Tom Gembus
            Tapi karena perutnya semakin lama semakin sakit, mulas, Jon akhirnya memutuskan untuk ke toilet masjid. Ternyata, efek sambal rujak yang super pedas itu, membuat Jon mendekam cukup lama di toilet
            Setelah selesai dari toilet, Jon ke tempat wudhu yang  letaknya tak jauh dari toilet. Selesai bersuci, ketika Jon hendak ke tempat saf nya semula, ternyata para jamaah sudah berhamburan meninggalkan masjid. Karena malu, Jon akhirnya memutuskan ke toilet lagi untuk bersembunyi
            Jon..jon yang ketika  jamaah lain baru selesai jumat, kamu baru selesai buang hajat.

NB..gambar Jon Koplo diambil dari internet

Kamis, 07 November 2019

Belajar dari Boy Candra

Apakabar teman - teman setia blog Pojok Baca? semoga selalu dalam lindungan Allah ya. Aamiin. Kali ini saya akan cerita tentang pengalaman ketemu penulis hits Boy Candra. Tahukan? intip yuk..

Tahu nama Boy Candra sudah lama. Tepatnya pas suatu hari ke Gramedia Tegal rak - rak best seller yang biasanya di dominasi Tere Liye, Andrea Hirata, Asma Nadia, Raditya Dika, A Fuadi tiba - tiba tempat itu direbut seorang penulis bernama Boy. Boy Candra

Meski begitu, saya belum tergerak untuk membaca karya - karya penulis kelahiran 11 november 1989 ini. Entah kenapa? saya juga nggak tahu. He..he..

Waktu berselang, saya mengikuti akun Boy di Instagram juga di Twitter. Hal ini yang kemudian membuat saya tahu kalau Boy hendak mengadakan acara meet and greet di Gramedia Tegal, gratis pula..

Beruntung, sabut sore sebelum hari H, saya mendapat salah satu karya Boy yakni Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai. Selain bahan untuk mempelajari isinya, bisa juga bahan buat foto bareng. Haha 

Minggu siang, saya sampai di Rita Mall. Di sana, panitia yang didukung penerbit Mediakata sedang melakukan persiapan seperti mendesain tempat, cek sound dan lainnya

Setengah dua siang, saya mulai registrasi sebagai peserta sekaligus buat nomor antri foto bareng penulis 16 buku yang sebagian bestseller tersebut.Saya down dari sekian puluh yang registrasi, peserta yang datang didominasi mahkluk berjilbab. Abg- Abg pula. Untungnya saya berusaha cuek sambil baca buku dan sesekali menengok laman media sosial

Tepat jam 2 siang acara dimulai dengan akustikan oleh solois Rizal Saputra. Ketika Boy muncul dihadapan pembacanya, sebagian besar histeris ( kecuali saya dong ). Tapi histeris elegan. What? iya mereka teriak - teriak haa haaa saja. Coba kalau fansnya Afgan atau Gino Abraham pasti pada meringsek ke depan untuk peluk, cubit atau tindakan berani lainnya






Finaly, Boy ke depan dan saya mendapat banyak pelajaran dari dia. Saya catat sebagian ya, semoga bermanfaat

1. Bagi saya pembaca saya lebih pintar. Jadi, kalau saya salah boleh diluruskan
2. Pembaca buku - buku saya adalah pembaca, teman bukan fans. Fans bagi saya konotasinya negatif
3.. Tulis yang kamu pahami dan ingin kamu dalami
4. Setiap manusia berproses. Dulu, saya menulis aku dengan Q. hehe
5. Boy Candra pernah ditolak 7 penerbit sebelum akhirnya menulis 16 buku yang sebagian besar penjualannya laris
6. Yang susah itu membangun psikologi pembaca

Pembaca pojok baca, segini dulu ya. Doakan agar bisa terus menulis di sini

by Sutono Adiwerna, Penulis lepas, tinggal di Tegal. Foto dari internet

Serunya beli buku-buku seken

 1. Buku yang kita dapatkan original dengan harga terjangkau. 2. Pernah mendapatkan buku yang edisi PO, ada tanda tangan penulisnya. 3. Pern...